Apabila kita ditanya dengan pertanyaan “Berimankah anda?”maka spontan kita akan menjawab beriman, walaupun dengan perasaan dongkol. Atau kita akan diam saja karena kita anggap pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab. Mengapa kita perlu mempertanyakannya? Iman mendasari seluruh aktivitas umat islam, tanpa iman maka gugurlah semua amal baik yang kita lakukan.
Contoh kekuatan iman tergambar dalam sebuah kisah seorang penggembala. Ketika suatu saat Amirul mukminin Umar bin Khatab r.a. menemui seorang penggembala ratusan ekor kambing. Sang kalifah menguji keimanan sang penggembala dengan memintanya untuk menjual beberapa ekor kambingnya kepada beliau tanpa sepengetahuan majikan atau tuannya. Kalifah meyakinkan penggembala dengan kata-katanya bahwa majikannya tidak akan mengetahuinya dan penggembala akan mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut tanpa perlu melaporkan pada majikannya.
Dengan cerdas penuh keimanan penggembala itu menjawab: “Benar majikan saya tidak ada bersama saya, dan dia tidak akan mengetahui kalau kambingnya berkurang hanya beberapa ekor, tapi fa ainalloh maka dimanakah Alloh?”
Jawaban pemuda pengembala ini sangat menyentuh hati karena diucapkan oleh seorang pemuda dan menepis bingkai logika keuntungan dunia yang didasarkan pada fakta kasat mata semata. Jauh didalam pikirannya ada hal yang tak kasat mata namun ada dan terasa dalam bingkai imannya. Imannya yang membimbing ucapannya, imannya yang menepis logika sederhana tentang ketidakadaan tuannya. Alloh SWT diyakininya dengan kuat bahwa Dia Maha melihat siapapun, dimanapun jauh melebihi kemapuan majikannya.
Kisah ini membuat kita malu manakala kita masih ‘menyembunyikan’ Tuhan dalam kata-kata manis kita atau dalam perilaku kita. Seakan KemahamelihatanNya ditundukkan oleh kesombongan dan keserakahannya dalam memutarbalik fakta untuk menguntungkan dirinya.
Satu bentuk iman kita adalah ketundukan pada semua perintahNya didasarkan pada iman kepadaNya. Puasa adalah kegiatan berat bagi yang tidak beriman. Puasa juga ujian sebagaiamana penggembala diuji oleh Umar bin Khatab ra. Kita bisa menguji diri kita dengan pernyataan: “Tak akan ada yang tahu kalau akuberbuka disiang hari, karena perbuatannku ini tak diketahui orang lain”. Lalu kita juga bisa menjawab dengan jawaban yang sama seperti yang dilontarkan sang penggembala: “Fa ainalloh, dimanakah Alloh “.
Sebagai orang beriman tentu saja kita harus menjawab seruan Allah SWT untuk menjalankan puasa: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS:2: 183). Bangun diwaktu sahur saat kita sedang terlelap tidur, menahan lapar dan dahaga disiang hari saat kita sedang bekerja dan membutuhkan banyak asupan, yang halal menjadi haram dan kita tidak boleh melakukannya, tentu hanya bisa dilakukan karena iman.
Sekalipun ilmu kedokteran menunjukkan bahwa puasa dapat menjadikan kita sehat, menjadikan kita langsing, dan berbagai keuntungan lain, namun kita tidak boleh melakukannya karena hal-hal tersebut. Bahkan bagi orang dengan tingkat iman yang tinggi (marifat) telah melepaskan diri dari sekedar mencari keuntungan akhirat berupa pahala yang ‘diobral’ saat bulan puasa, namun pada keimanan akan kuasa Allah atas segala sesuatu, termasuk didalamnya kuasa atas surga dan neraka,lebih mendorongnya melakukan amal-amal soleh.
Mereka meyakini tak ada amal yang dapat menggantikan kenikmatan yang diberikan Allah di Surga. Puasa menjadikan kita berintrospeksi / muhasabah terhadap amal-amal yang kita lakukan, apakah semuanya didasarkan pada iman atau dilandasakan pada tuntutan kenikmtan duniawi, pujian atau sekedar pencitraan.
Bulan puasa adalah bulan muroqobah, bulan pendekatan kita pada sang Khaliq Allah SWT. Pada bulan ini dengan penuh keimanan kita menjalankan sebanyak mungkin amal salih dengan harapan kita mendapat rahmat dan apunanNya. Rahmat adalah kenikmatan syurga sedangkan ampunan adalah terhindarnya dari api neraka. Kita diharuskan terus beramal salih baik yang besar maupun kecil dimata kita, karena kita tidak tahu dari amal yang mana yang menjadikan Rahmat Alloh diberikan pada kita. Semua amal baik akan kembali pada pelakunya. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri….”(QS.17:7).
Iman tentu saja tidak dibangun atas logika semata, karena ia lahir dari pemahaman dan perilaku benar yang diturunkan dari sifat Allah. Iman bukan hanya pengakuan namun ia adalah perbuatan (amal) yang didasari pada pemahaman (ilmu). Orang-orang yang berpuasa setiap tahun di bulan ramadan tak sedikit yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga, karena tidak ada iman yang mendasarinya, tidak ada ilmu sebagai sumbernya dan tidak ada amal salih yang mengiringinya.
Banyak yang berpuasa tapi tidak sholat. Terbangun untuk makan sahur tapi terlupakan sholat subuh. Menunggu saat berbuka dengan dengan melakukan aktivitas yang membuat Alloh murka, Puasa sebualan penuh namun lalai zakat. Atau yang lebih parah lagi ber-Idul fitri namun tidak berpuasa. Hal-hal tersebut karena tidak ada iman dalam hatinya. Semoga Alloh SWT memasukan kita pada golongan orang-orang beriman yang mendapatkan rahmat dan ampunanNya. Amiin.
Dr. Sunarto, SPi, MSi * Dosen Universitas Padjadjaran
